Oh, Hai!

Hai, kusapa kau sekali lagi ditengah hari dini Sedang kau sudah dalam mimpi Dan aku sedang rabai potret manismu mengangan. . . Sudahkah kau gosoki gigi rapihmu Dan sudahkah kau balut lekuk bahu dengan selimut biru Karena, yaa dingin dini ini sedang begitunya Dan Januari nampak takkan pernah hangat┬áberdamai Sebentar. . . Sebentar lagi aku […]

Read More Oh, Hai!

Sore di Biang Lala

Biar Lala saja aku panggilmu Ketika bibir merah mudamu beradu menemu Sedang tangan lembutmu bergetar takaruan Gerayangi mesra apa dihadapan Biar Lala saja aku panggilmu Ketika lesung dibibirmu melekuk bahagia Sedang tulang dipipimu memerah merona Karena sore ini aku sungguh berbahagia, Lala

Read More Sore di Biang Lala

Sedang di D8-102

Seperti pulang, semua akan bermakna bila saling beradu, saling jauh merauh, rabai hari hari gemuruh, tunggui temu berdatang menyauh. Bukankah jauh yang talikan dekat? Bukankah dekat yang janjikan rapuh berkarat? Dan seperti pulang. . . Sayang hanya jadi bila rindu jauh berlayang.

Read More Sedang di D8-102

06:11

Sebenarnya apa aku? Beriring iring tanggapi itu lara Meranggas lemas dalam gagas Dihembus bayu daun daun gegas Beterbangan jatuh jatuh penuhi tanah kelam Meresap jauh ke dalam, Disesapi akar akar Sebenarnya apa aku? Diruang yang lain aku kembang Merahnya terang, kuningnya nyaring Angin tak getarkan, tak goyahkan Oh, Sri, Sri… Sriku sendiri.. Beginikah jadi anu?

Read More 06:11

Ya, Gusti

Aku lebih senang panggilmu Gusti daripada sebutan yang lain. Nampaknya, memang aku begitu menyukai semua yang berakhiran i, kecuali yang belakangan ini; Tai, Babi, dan i lain yang berkonotasi negatif. Bahkan bila namamu, si manis itu, Bela, aku akan dengan begitu sudinya menambah i dibelakangnya, jadi Belai, haha. Ya, Gusti. Belakangan ini dingin memang sebegitu […]

Read More Ya, Gusti