What A Wonderful World.

Perkenalkeun nama saya Bohemi. Panggil saja “ohem”. Disini saya sedang duduk, pandangi langit biru lewat kaca mobil putih yang bunyinya!! Aduh! bikin orang-orang pada minggir. Telinga saya jejali dengan headset putih yang….. ya Gusti!! suara si Louis Armstrong!!.

I see trees of green, 
red roses too. 
I see them bloom, 
for me and you. 
And I think to myself,
what a wonderful world. 

Sudah dua setengah jam saya duduk sambil dengar lirik itu sambil merenung mengapa dunia gelap ini berubah jadi biru-biru keunguan, hijau-hijau kekuningan, merah-merah ke oranye an. Apa mata saya sudah begitu rusaknya? Atau memang begini rupa aslinya? dan lagi…. Kemana mobil ini menuju? dan Siapa pula dua orang berbaju putih ini? yang tampaknya si sopir dan keneknya. Mengapa mereka sebegitu ngebutnya?

The colors of the rainbow, 
So pretty in the sky. 
Are also on the faces, 
Of people going by, 
I see friends shaking hands. 
Saying, “How do you do?” 
They’re really saying, 
“I love you”. 

Aiiihh,, siapa ambil peduli. Hidup sudah sebegini damainya, biar saja orang-orang ngebut gak karuan, tergesa-gesa dalam kehiruk-pikukan. Biar saja.. Biar.. yang paling penting langitku sudah kembali biru, dan daun-daun itu…Ahhh Gusti!! Daun-daun mengingatkanku pada manusia-manusia disini. Lihat remaja itu! Iya gadis diseberang sana yang dadanya menyembul dengan rambut pirang alaminya itu, dia sedang semi-seminya, hijau pupus dia itu, sedang menuju hijau-hijaunya. Nah benar kan! Sekelilingnya pada lihati itu yang menyembul, buah dari surga itu. Ah dasar mereka itu, para lelaki… Mereka yang begitu itu sebenarnya hijau tegap. Karena tidak dapat tahan mata dan burung di celananya, dia jadi santapan nafsu-nafsunya sendiri, ulat-ulat yang menggerogoti benang-benang hijau daunnya. Dan, itu pak tua yang tersenyum bahagia menikmati cucunya yang bermain-main dihalaman itu. Ahhh, Pak tuaaa, berapa usiamu oh Pak? sudah lama sekali pasti kau hidup, tinggal lagi kau jatuh Pak! diterpa semilir angin bak kuning daun-daun diujung ranting-ranting.

Yes, I think to myself, 
What a wonderful world.

Ya… kemanapun hewan beroda empat ini membawaku, aku tak mau ambil peduli. Angin-angin begitu melenakan. Oh Tuhaaan.. kenapa orang-orang ini pada menangis ditengah indah warni bumi ini. Lihat… tubuhku sebegini ringannya apa mereka tak rasakan tubuhnya sendiri? Bahkan, aku mampu melayang-layang saking bahagianya. Ahh!! Sayang, kau disini pula ternyata. Sayang..Sayang mengapa kau juga menangis? Tak sukakah kau kalau aku bahgia? Ayo, Senyumlah, lepaskan duka-duka mu.

Kereta, mobil, atau hewan putih ini terus saja melaju. Tembusi waktu berkabut. Terjangi apa-apa dihadapnya. Truk, pick-up, Bus, Tronton, apa lagi? Segalanya hormat. Beri Jalan. Beri ruang. Ah, nikmatnya. Apa pula nama hewan ini? Aku juga tak mau ambil peduli. Aku juga lihat raut senang dan air muka gembira ria dari pengendara roda dua dibelakang keretaku. Membontot i dibelakang keretaku sambil senyam-senyum bahagia karena jalan mereka terbuka, bebas macet, semua menyingkir karenaku. Kurang apa hidup kalau sudah begini ya Gustii? Sedang aku melayang lepas tanpa kendali, hirupi udara kedamaian, sembari kudengar orang-orang berteriak :

“Minggirr!! Minggir semua!! Ambulans! Ambulans!”

Wiu..wiuu..wiuu begitu suara kudaku.
Ah, Dunia ini begini rumpang, semuanya ganjil. Aku tak bisa paham. Ah mana peduli aku. Aku sebegini melayangnya.

Yes, I think to myself, 
What a wonderful world.

Ah… tapi sayang, sayangnya, sayangku tidak tersenyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s