About

Saya Adi, setidaknya begitu orang-orang memanggil saya. Menurut Ibu saya, “Adi” diambil dari bahasa Jawa yang berarti mempunyai nilai tinggi; mempunyai kelebihan. Namun, Ibu saya bukan tipe manusia yang senang melebih-lebihkan, maka diartikannya kata ini “Adi” cukup dengan artian Besar.  Entah apa-nya yang besar, kapan dan bagaimana saya menjadi besar, tentu saja saya belum tahu dan -untuk sementara- belum menyadarinya. Wong, toh saya juga segini-segini dan begini-begini saja.

Semasa Sekolah Dasar, saya tidak begitu menyukai nama yang dilekatkan dengan tanpa persetujuan sama sekali dengan saya ini, orang yang kelak menggendong-gendongnya sampai mati ini, jangan berpikiran bahwa saya bisa merubahnya kelak ketika saya mampu, Lha wong  “Brilliant Adi Pratapa” sudah melekat kuat dengan tinta hitam yang semburat dari mesin tik tahun ’97 di akta kelahiran saya. Selain begitu, mempertahankan sebuah nama berarti mensyukuri dengan ungkapan terimakasih yang sedalam-sedalamnya atau bisa juga ditulis seluas-luasnya kepada Sang Hyang Widi yang karenanya, lewat Linggamnya Bapakku, calon aku disemburkan dalam sumber, Yoni nya Ibuku, yang jadilah saya sekarang ini sedang menulis kolom “About” di Blog begini. Maka dengan mempertahankan nama pemberian Ibu ku ini sama dengan menjaga api harapan yang ditiupkannya ke badan dan jiwa ini.

Bagaimana saya akan menyukai “Pratapa”? Dalam kepala kecil dan otak mungil saya kala itu, “Pratapa” terdengar  kuno dan begitu anehnya. “Bapa Ibumu bien yen nglahirke kowe mertopo neng Goa yo?” Begitu kata orang-orang menanggapi si  “Pratapa” menganggap Bahwa Bapa dan Ibuku seorang pertapa dari goa. Sering saya meng-iyakan saja apa kata mereka karena saking bosannya menanggapi. Dimasa dimana nama depan teman-teman saya “Muhammad” dan “Ahmad”, ibu saya lebih memilih “Brilliant”, yang kala itu saya juga merasa sangat kikuk, karena teman-teman dan bahkan guru saya sering salah mengeja dengan menulis “Brilliant” dengan satu huruf “L” atau bahkan lupa menuliskan akhiran “T”, saya sih tak ambil pusing, yang paling pening itu Ibu saya. “Lha pie ngene iki, yen nama ga podo karo ndek akta?” begitu ibu saya sering menimpali.

Sekarang saya sudah 20 tahun. Seiring beriringnya si waktu, saya makin sadar bahwa nama yang dilekatkan saya, sedikit banyak juga membawa ke-khas-an dalam diri saya. Bahkan saya sering mengandai bahwasanya,  apakah bila nama saya “Kliwon” atau “Pahing” dan bukan “Brilliant Adi Pratapa”, saya akan begitu antusiasnya dengan puisi? dan menjadi sebegini melankolisnya? Ah, kalau sudah begini saya lebih setuju dengan si pujangga Inggris dengan kutipan terkenalnya “What’s in a name?”. Ngapain juga repot-repot soal nama bila nama bisa berubah ubah sewaktu-waktu dengan hanya slametan Jenang Abang dan bagi perempuan nama sering dipengaruhi juga dengan siapa nanti anda menikah, Se apik apa nama anda ketika anda menikah dengan “Bambang” maka dengan begitu cepat anda dipanggil “Bu Bambang”, dan begitu anda menikah dengan “Pak Mi” maka anda juga akan dipanggil “Bumi” hahaha.

Ah.. sudahlah soal nama. Mengenai blog ini, ia merupakan kawan sekaligus anak saya, separuh dari jiwa saya. Seperti yang anda bisa lihat sendiri, sebagian besar postingan merupakan puisi, anak-anak rohani saya yang menuntut untuk dilepaskan, tak mau di elak, tak mau ditahan. Dan kedepan postingan saya juga tidak akan jauh-jauh dari puisi dan sajak. Karena dengan menulis begini saya merasa ada yang lepas tak tertahankan dengan liarnya dan membuat jiwa badan saya lega-selega-lega nya. Entah kemana nanti mereka, anak-anak sekaligus kawan saya ini akan hinggap, saya juga belum tahu, mungkin terbang melawan sekaligus terseret arus angin barat atau timur atau apapun dan nyangkut di ranting-ranting pepohon, masuk ke kubangan got-got muram yang banyak nyamuknya, terseret ke kali bening yang tidak begitu banyak ikannya, atau bahkan terbang melayang tembusi awan naiki rasi bintang, saya belum tahu. Jelasnya, saya si Bapak yang melahirkan mereka berharap anak-anak rohani saya ini bisa tumbuh, keluarkan warna-warni kembang-kembangnya, duri-duri tajamnya, kemuramannya, kebejatannya,  dan apapun sifat karakternya sampai ke tempat yang sejiwa dan sepenanggunganya, sehingga mereka-mereka bisa merasa, meraba, menyesap, melihat, bahwa hidup tidak sebegini muramnya sekaligus sebegini muram dan gelapnya. Bahwa akan tetap ada warni kembang ditaman dan gemerlip suraya yang bikin indah malam hari.

 

Malang, Tengah Hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s